Di sekitar lapangan sepak bola Kini Balu Samarinda terdapat 3 tempat yang pernah bikin merinding bulu kuduk warga bila melintas.  Pertama  di daerah Kerkopan atau perkuburan Belanda, kedua di belakang rumah gubernur atau Lamin Etam, dan ketiga di Jalan Tirta Kencana. Apa yang membuat tempat-tempat itu menjadi seram?

SAMARINDA pada tahun 1940-an masih dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah kolonial Belanda. Pejabat tertinggi Belanda kala itu bernama H Van dee Wall dengan pangkat Asisten Residen. Orang-orang Belanda ini kebanyakan tinggal di Jalan Bhayangkara, Jalan Basuki Rahmat — dulu Jalan Teratai —  serta di sekitar pinggiran sungai Jalan Yos Sudarso yang dulu bernama Boom Straat (sekarang Jalan Pelabuhan).

Begitu pula dengan tangsi militer yang hingga kini masih berada di lokasi sama,  yakni di Jalan Awang Long, serta kantor polisi di Jalan Bhayangkara. Ketika itu, pergerakan para pejuang ‘Kota Tepian’ ini masih sangat lemah. Belum mampu berbuat banyak, apalagi melakukan perlawanan merebut kedaulatan dari tangan penjajah. Para pejuang ini baru dalam tahap konsolidasi dengan kawan-kawan seperjuangan mereka di Pulau Jawa.

Pihak Belanda, ketika itu hanya memandang sebelah mata terhadap pergerakan perjuangan di Samarinda dan sekitarnya. Mereka beranggapan, kegiatan tersebut tak mungkin meluas sehingga kemerdekaan pun mustahil terjadi. Karenanya, kaum penjajah ini sangat tenang melaksanakan pemerintahan sebab keamanannya memang benar-benar terjamin.

Para menier Belanda ini begitu menikmati hidup di Samarinda. Mereka memiliki beragam fasilitas untuk bersenang-senang pada setiap malam minggu atau pun berekreasi kemana pun mereka suka. Ada yang pergi memancing ke laut, ada pula menyelenggarakan pesta dengan mengundang para tamu asing dari Batavia dan lain sebagainya.

Soal pilihan tempat tinggal, kaum menier enggan berbaur dengan warga pribumi. Mereka secara khusus berdiam di sekitar Jalan Basuki Rahmat, Jalan Teratai dan sebagian Jalan Pelabuhan. Kecuali para pelayan, tak satu pun orang pribumi diperkenankan memasuki kawasan tersebut. Kalau pun ada yang lolos dari pengawasan petugas jaga (Satpam_Red), pastilah orang itu akan dikejar anjing-anjing galak peliharaan menier-menier ini. Paling tidak, anak orang pribumi ini akan lari pontang-panting lantaran ketakutan. Pemandangan itu pun seolah menjadi hiburan bagi para Noni Belanda.

Bagaimana dengan lapangan Kini Balu? Memang pada tahun 1940-an tempat ini hanya merupakan lahan kosong berukuran lebih kecil. Di sekitar lapangan itu terdapat kebun-kebun milik warga. Gedung tua yang terdapat pada bagian samping lapangan (sekarang bersebelahan dengan Gereja GPIB_Red) merupakan bekas kantor Asisten Residen. Di hadapan kantor tersebut (sekarang berseberangan dengan bagian belakang Lamin Etam_Red), tadinya terdapat sebuah bukit kecil.

Ketika perang dunia kedua meletus pada 1942, bukit itu digali dan dijadikan sebagai benteng pertahanan oleh tentara Jepang. Namun, pada akhirnya tentara Sekutu berhasil merebut goa tersebut. Pada pertempuran kala itu, sejumlah tentara Jepang tewas dikuburkan oleh rekannya di dalam goa ini.

Sesuai cerita Pak Kidi, seorang warga Kampung  Jawa, pihak Sekutu membutuhkan waktu 3 hari tiga hari untuk merebut benteng itu. Sejumlah tentara dua belah pihak tewas dalam pertempuran hebat tersebut.

“Setelah kemerdekaan dan pemerintahan dikuasai oleh RI, akhirnya goa itu ditutup serta diratakan. Nah, di atas tanah inilah sekarang berdiri bangunan bagian belakang rumah dinas Gubernur Kaltim,”  cerita Pak Kidi.

Konon sebelum goa itu diratakan dengan tanah, banyak orang yang mengaku pernah melihat beberapa hantu tentara Jepang berkeliaran di kawasan itu. Ada juga yang mengaku sering mendengar teriakan-teriakan dalam bahasa Jepang,  padahal tak melihat si pemilik suara. Kemudian warga juga kerap mendengar suara derap sepatu lars seperti orang sedang berlari.

“Dulu banyak orang yang takut lewat di sana pada malam hari. Tapi setelah bukit itu digusur, warga tidak lagi pernah mendengar suara-suara menakutkan, apalagi hantu Jepang yang penasaran,” lanjut Pak Kidi.

Masih di sekitar lapangan Kini Balu, sekitar tahun 1941 terjadi peristiwa yang sangat menyayat hati para menier, yakni runtuhnya goa alam yang terdapat di Gunung Pemandian (sekarang Gunung PDAM_Red). Tercatat  9 anak para petinggi Belanda terkubur hidup-hidup di sana. Seperti apa kisahnya?

Cerita ini berawal dari kebiasaan tuan dan nyonya Belanda yang setiap hari minggu membawa anak-anak mereka bersantai di kolam renang yang dulu memang terdapat di sana. Di situ mereka asyik berenang sambil berjemur diri.

Tak jauh dari kolam renang, di bagian sisi gunung ada sebuah goa alam dengan pemandangan sangat indah. Jika duduk di mulut goa tersebut, kita akan dapat melihat sungai Mahakam dan pemandangan kota serta Samarinda Seberang. Indah memang, disamping hawanya yang sejuk membuat siapa pun menjadi betah berada di sana. Goapetak umpet anak-anak Belanda yang orang tuanya asyik mandi di kolam renang. ini sering dan hampir setiap Minggu dijadikan tempat bermain

Suatu ketika, saat anak-anak ‘bule’ ini sedang bermain, goa tiba-tiba runtuh. Sembilan anak Belanda yang ada di dalamnya terkubur hidup-hidup. Tak jelas apa penyebab runtuhnya goa tersebut.  Keadaan menjadi panik, acara liburan berubah menjadi petaka. Semua peralatan bantuan pertolongan didatangkan untuk menggali goa itu.

Semua orang berharap menemukan anak yang hidup di dalam goa. Sayang, upaya penggalian itu sia-sia belaka. Padahal, kedalaman galian sudah 12 meter hingga menembus bagian dalam goa. Anak-anak Belanda ini tak juga ditemukan. Mereka hilang tanpa bekas, walau seluruh lorong goa sudah diobok-obok.

Setelah melakukan pencarian selama satu minggu, akhirnya upaya itu dihentikan. Sejak saat itu pula, goa tersebut ditutup dan dijadikan kuburan bagi kesembilan anak Belanda ini. Bersamaan itu pula, kolam pemandian yang ada di sana tak pernah lagi dikunjungi oleh orang-orang Belanda. Apalagi pada tahun yang sama sudah mulai terjadi peperangan Sekutu dengan pihak Jerman. Juga, pada tahun 1942 Jepang memasuki Samarinda dengan aksi Perang Asia Timur Raya-nya.

Setelah Belanda dan Jepang takluk lantas pulang ke negeri masing-masing, kolam renang itu mulai digarap dan difungsikan lagi. Namun sejak itu, timbul cerita misteri tentang berkeliarannya anak-anak Belanda di jalan menuju kawasan pemandian tersebut (sekarang Jalan Tirta Kencana_Red). Konon, anak-anak Belanda tersebut hingga saat ini kerap terlihat asyik bermain pada alur parit pembuangan air sepanjang jalan itu yang masih terdapat hingga sekarang. Anehnya lagi, keberadaan mereka hanya pada waktu senja dan setelah itu menghilang.

Setelah kembali ke tanah air mereka, para orangtua anak-anak Belanda itu tak serta merta melupakan perkuburan anak-anak mereka. Beberapa kali para menier ini mengunjungi kawasan pemandian tempat pemakaman massal anak-anak mereka.

Terakhir pada kunjungan para veteran Perang Dunia II pada 1995. Ada beberapa mantan anggota NICA (Nederlandsch Indië Civil Administratie), mengaku sebagai orangtua di antara sembilan anak yang terkubur itu. Beberapa diantaranya menabur bunga di bekas goa sambil berlinang air mata. Yang namanya orangtua pastilah akan melakukan apa saja untuk anak yang dicintainya.

Para veteran ini juga berkata, kalau kedatangan mereka kala itu mungkin untuk yang terakhir. Wajar, sebab pada waktu itu para Veteran NICA tersebut rata-rata sudah berumur sekitar 70 tahunan atau lebih.

“Kami juga sama dengan kalian. Kami memiliki rasa kasih sayang, cinta dan kenangan yang tak bisa dilupakan. Kita adalah sama yang diciptakan oleh Maha Pencipta. Hanya saja, kita dipisahkan oleh sebutan Bangsa dan Negara. Tetapi soal kenangan, cinta dan kasih sayang pastilah tak akan berbeda.*SELESAI