APAKAH Anda pernah dengar istilah hipogonadisme? Hipogonadisme dijumpai jika didapatkan konsentrasi hormon testosteron yang rendah atau kerja hormon testosteron yang tidak kuat. Wajah pria yang babyface atau awet muda disinyalir salah satu cirinya.

 
Masyarakat terutama kaum pria disarankan untuk mewaspadai hipogonadisme, yaitu keadaan di mana terjadi penurunan kadar hormon laki-laki atau testosteron karena dapat meningkatkan risiko disfungsi ereksi, massa lemak tubuh, menurunnya libido, massa dan kekuatan otot, serta terjadinya osteoporosis.
 
Edukasi mengenai deteksi dini serta penanganan yang tepat terhadap hipogonadisme pada pria penting dilakukan agar dapat terhindar dari komplikasinya, serta menjaga kualitas hidup.
 
Hipogonadisme tidak hanya dialami oleh pria dewasa saja, tetapi juga anak-anak. Hal ini dapat dilihat saat si anak dalam masa pertumbuhan atau remaja.
 
“Apabila anak sudah 15 hingga 17 tahun, tapi secara fisik belum terlihat kumis atau rambut halus di daerah lain, seperti di ketiak atau di sekitar alat kelamin, penis tidak berkembang, tidak mengalami perubahan suara, tidak ada jerawat pada wajah, atau tidak ada tanda-tanda pertumbuhan dan perkembangan seksual lainnya, maka perlu diwaspadai terjadinya hipogonadisme. Orang menyebutnya anak ini babyface, usianya sudah remaja tetapi masih seperti anak-anak,” tutur Dr. Em Yunir, SpPD-KEMD, dalam seminar media mengenai Hipogonadisme pada Pria dan Masalah Keganasan Kelenjar Tiroid di Hotel Mandarin, Jakarta, Jumat (15/6/2012).
 
Kurnia menjelaskan, orangtua sangat berperan untuk melakukan deteksi dini hipogonadisme pada anak, di antaranya dengan cara mewaspadai adanya kelainan yang mungkin terjadi selama masa tumbuh kembang mereka dan segera berkonsultasi jika terdapat kecurigaan.
 
“Jika usia anak-anak sudah masuk remaja, biasanya peralihan antara SD ke SMP. Usia 11, 12, atau 13. Bisa dilihat bulu kumis, ketiak, kalau pada laki-laki biasa dilihat di daerah kemaluan. Yang paling jelas dari suara. Kalau suara si anak tidak juga mengalami perubahan, tidak membesar seperti bagaimana harusnya teman-teman lain seumurnya, maka harus segera diperiksa. Harus dipastikan hormon testosteron dalam darahnya rendah atau tidak. Jika hormonnya normal, ya tidak ada masalah,” jelasnya.
 
Pengobatan hipogonadisme pada pria dewasa, yaitu berupa penggantian hormon berupa terapi testosteron yang mampu mengembalikan fungsi seksual, kekuatan otot, mencegah osteoporosis, dan menggunakan bantuan teknologi reproduksi yang membantu pasangan dalam pembuahan.
 
Sedangkan hipogonadisme pada anak laki-laki, sebelumnya harus dicari dahulu penyebabnya, apakah ada penyakit lain yang menyertainya. Jika diperlukan, keadaan ini dapat diobati dengan pemberian hormon testosteron sintetik.

Iklan